WKT Weltevreden Museja

Minggu 18 September 2005. 08.00 – 12.00. Biaya Rp. 20.000,- per-orang.

Pagi gue bangun jam 5.30 (tumben bisa bangun pagi, padahal kalo hari Minggu paling cepet gue bisa bangun baru jam 8.00) gag lama kemudian Maya sms kalo hari ini jadi ikutan. Padahal tadi malem dia sambat kalo kepalanya pusing. Sementara si Rendy yang gue minta tolong bangunin gue malah baru telpon jam 6.30 pas gue mau berangkat.

Jam 6.45 gue udah keluar rumah, tapi ya ampun ini perut berontak. Terpaksalah gue masuk ke rumah lagi. Dasar emang ritme biologis gue kalo hari minggu maunya santai, ya ginilah susah kalo pagi-pagi udah diajak jalan.

Jam 7.35 gue sampai di Museja (Museum Sejarah Jakarta), langsung gue cari Rendy & Eded. Seperti biasa, mereka lagi cari-cari obyek di depan Museja. Mereka berdua udah daftar, Eded yang paling duluan dateng di kelompok 1. Sementara Rendy di kelompok 2. Gue gag langsung daftar karena nunggu Maya (dan Luluk yang ternyata ikutan juga). Ternyata tanpa setahu gue Luluk dateng tidak lama setelah gue, dan langsung daftar buat dia dan Maya. Jadi begitu Maya dateng gue langsung daftar dan dapet di kelompok 6, masih satu kelompok sama Maya dan Luluk. Dan seperti biasa juga kita berfoto-ria dulu.

Jam 8.45 kita dikumpulin di halaman dalam Museja untuk dikumpulkan per-kelompok dan pembagian pimpinan rombongan / pemandu. Kelompok 6 pemandunya mbak Indri dan mbak Fari. Kalo gag salah para pemandunya para mahasiswa Arkeologi UI. Setelah itu kita mendapat pengarahan singkat dari Bpk. Alwi mengenai Museja serta tempat-tempat yang akan kita kunjungi. Oh ya waktu kita kumpul di dalam kita ketemu satu orang lagi yang sering ikutan Batmus, yaitu ibu Woro. Bpk. Alwi ini (lupa nama lengkapnya) merupakan salah satu kolumnis harian Republika yang sering menulis tentang sejarah dan kebudayaan.

Setelah dikumpulin perkelompok (satu kelompok sekitar 10 orang dengan dua orang pemandu) dan briefing singkat dari ketua acara kita berjalan menuju stasiun kota (Beos). Dari situ kita naik KRL ke stasiun Juanda. Sempet rada bingung juga karena pimpinan seluruh rombongan bilang supaya kita naik di gerbong paling depan. Padahalkan KRL kepalanya kan dua, para peserta pun segera naik ke gerbong paling depan menurut posisi kedatangan. Yang ternyata salah dan sudah ramai dengan penumpang biasa. Jadilah peserta berbondong-bondong pindah ke ke gerbong paling belakang (atau paling depan menurut posisi keberangkatan).

Sampai di stasiun Juanda kita berjalan ke arah Pasar Baru. Berhenti sebentar di jembatan pintu air (yang ada pintu airnya), mendengarkan cerita pak Alwi mengenai suasana sekitar situ tempo dulu. Bagaimana dulu kali Ciliwung yang dulu bersih dan orang-orang sering berperahu di situ melewati pasar baru.

Setelah dari situ rute berubah, tadinya kita mau ke gedung Antara lebih dulu, tapi berhubung waktu keberangkatan yang molor jadi kita jalan mengunjungi Gedung Kesenian Jakarta terlebih dahulu. Maka kita jalan sampai ke depan Pasar Baru, melewati Gedung Antara dan Kantor Pos Filateli lalu menyeberang ke Gedung Kesenian Jakarta yang dahulu disebut Stadtschouwburg atau Gedung Komidi.Berfoto-foto ria dulu di depan Gedung lalu masuk ke dalam, ke ruang tunggu dan kantin untuk mendengarkan keterangan dari pihak GKJ mengenai sejarah gedung dan cerita-cerita seputar GKJ. Setelah itu kita diberi kesempatan untuk masuk ke ruang teater yang kebetulan sedang ada latihan balet modern. Jadilah mereka dan ruangan teater obyek para fotografer. Jepret sana, jepret sini, sampai sampai panitia harus berulang kali memanggil peserta yang asik foto-foto untuk melanjutkan perjalanan.

Dari Gedung Kesenian Jakarta kita berjalan menuju ke Kantor Pos Filateli Jakarta yang dahulu bernama Hoofdpostkantoor te Batavia Centrum yang berfungsi sebagai “Kantoor Doofdbureau van de Posten Telefoondienst atau Post, Telegraf en Telefoon (PTT). Disitu kita juga mendengarkan keterangan dari pihak Kantor Pos sejarah gedung dan cerita-cerita seputar Kantor Pos ini.

Dari situ kita menyeberang menuju ke Gedung Kantor Berita Antara, keliling dalam gedung untuk melihat-lihat museum Kantor Berita Antara dan mendengarkan cerita Pak Alwi.

Selesai dari Gedung Antara kita berjalan melewati Pasar Baru, nyebrang jalan lagi menuju lokasi berikutnya yaitu Gedung Departemen Keuangan. (Nah lho kan mondar-mandir lewat Gedung Kesenian Jakarta Lagi). Gedung ini dulunya dikenal dengan berbagai sebutan diantaranya : Daendels Palais, Palais te Weltevreden, Groote Huis atau Witte Huis. Sayang ditempat yang megah ini kita hanya bisa melihat bagian luar gedung saja, tidak diperkenankan untuk melihat-lihat bagian dalam gedung.

Kurang puas dari situ (karena gag bisa lihat-lihat bagian dalam gedung) kita menuju ke kedai es Ragusa di jalan Veteran. Lumayan jauh juga perjalanannya. Dari Gedung Departemen Keuangan, yang terletak di belakang Lapangan Banteng, kita berjalan melewati Gereja Katedral dan Mesjid Istiqlal, kembali ke arah Setasiun Juanda lalu masuk ke Jalan Veteran di samping hotel Royal. Dalam perjalanan gue sempet mikir juga, apa bisa kedai sekecil itu dimasuki oleh rombongan yang berjumlah sekitar 80 orang. Ternyata bener juga, sampai di sana peserta cuman bisa nongkorng aja di luar. Sementara di dalam sudah penuh oleh pengunjung lainnya. Gue, Maya dan Luluk maksa masuk dan dapet tempat duduk dari pengunjung yang baru aja selesai makan. Ngaso sebentar dan gue pesen es jeruk karena aus banget, sementara Aqua gue udah abis di perjalanan. Para peserta diminta untuk menyerahkan kupon kepada panitia untuk ditukarkan dengan es krim. Segeran dikit kita keluar untuk mengambil jatah eskrim dari panitia. Jadilah para peserta nongkrong di emperan sambil menikmati es krim ragusa. Untuk kembali ke Museja panitia telah menyediakan metromini yang semula diparkirnya di depan hotel Royal. Ternyata sudah ada dua metromini yang parkir di dekat eskrim Ragusa. Kita berlima (Gue, Rendy, Eded, Maya, Luluk) yang sudah berpisah dari kelompok masing-masing cepet-cepet naik ke salah satu metro yang sudah agak penuh. Gue dan Rendy berdiri di pintu dan meminta supir metro untuk segera berangkat menuju ke Museja (ngebajak ceritanya, abis udah cape dan kepanasan).

Sampai di Museja para peserta dipersilahkan untuk menikmati makan siang yang disediakan oleh pihak panitia dan Museja. Makanannya cukup enak dan berlimpah (dan gue bisa nambah), yaitu Sayur Sop, Semur Ayam, Kerupuk dan Sambel. Kenyang dan seger lagi kita. Selesai makan siang dan bubaran peserta, kita berlima tetap nongkrong disitu. Istirahat, ngobrol ngalor-ngidul dan yang pasti foto-foto lagi. Rendy yang kepengen punya kamera digital slr pinjem kamera gue dengan lensa 70-300. Dengan lensa tele itu dia motret-motret “wajah-wajah bagus” pengunjung Museja.

Kita nongkrong di situ agak lama juga, sekitar dua jam. Abis itu kita keluar dari Museja mau liat Batavia Art Festival yang diadakan di halaman depan Museja. Tapi karena sudah menjelang sore arena pertunjukan dan pameran sudah agak sepi. Bahkan beberapa stand sudah bubar. Disitu gue ketemu salah satu bule pemeran drama rekonstruksi Patekoan dan Kapitein Ganjie pada tanggal 21 Agustus yang lalu di Museja. Si bule yang masih inget sama gue, ternyata si Uncle JC di Radio SK 93.2 FM dalam acara Trafieska yang on-air setiap hari selasa – jum’at, jam 18.00. Di situ dia buka stand dan jualan foto-foto hasil karya dia yang dicetak diatas kanvas. Boleh juga idenya, meskipun beberapa foto-fotonya biasa-biasa aja temanya, tapi karena diolah di komputer dan dicetak diatas kanvas jadi menarik untuk dipandang.

Berhubung gag ada lagi yang bisa dilihat dan udah sore kita bubaran. Gue, Maya dan Luluk ke Blok M dulu naik Busway. Dari Blok M Gue pulang naik Patas AC 08.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s